“Melawan Jepang tanpa makan”: Kenangan veteran perang Australia

2 Jan

Thomas Frederick Smith

“Kami mendarat di Timor Barat dengan 1000 orang personil dan hanya 23 orang yang berhasil selamat. Kami bertempur tanpa henti melawan tentara Jepang selama 4 hari berturut-turut tanpa makanan dan amunisi,“ kenang Thomas Frederick Smith, 90 tahun, satu dari 23 orang yang selamat di Timor Barat dalam sebuah episode Perang Dunia II tersebut.

Tembok yang tertutup tanaman adalah satu-satunya penghalang antara keramaian kota Jakarta dengan sebuah upacara khidmat dalam Taman Makam Pahlawan negara-negara persemakmuran di Menteng Pulo –Kuningan, Jakarta Selatan. Upacara tersebut adalah peringatan Hari Pahlawan bagi warga Australia dan Selandia Baru, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Anzac Day, yang dihadiri oleh sanak keluarga tentara yang dimakamkan dan perwakilan diplomatik negara-negara persemakmuran, seperti Duta Besar Australia untuk Indonesia, Greg Moriarty.

Upacara dimulai pada pukul 05.30 WIB -jam yang sama dengan saat-saat pendaratan tentara Australia dan Selandia Baru di Teluk Gallipolli,Turki, pada tahun 1915. Pendaratan itu mengawali pertempuran sengit yang berakhir dengan kekalahan dan gugurnya lebih dari 8 ribu tentara Australia dan Selandia Baru.

Dalam sambutannya Greg Moriarty mengatakan Hari Pahlawan ini adalah hari untuk mengenang pengorbanan terakhir tentara Australia dan Selandia Baru yang memungkinkan kita semua hidup dalam damai dan bahagia.

Sementara itu veteran perang Australia, Thomas Frederick smith (90) yang menghadiri langsung acara di Jakarta mengaku sangat bahagia bisa mengunjungi makam rekannya di kesatuan batalion infanteri 2/40 di Taman Makam Pahlawan (TMP) negara-negara persemakmuran ini.

“Kawan saya gugur dalam pertempuran melawan Jepang di jalur kereta api di Sumatera, hanya 3 bulan sebelum perang berakhir. Saya melihat pusaranya di utara makam ini tadi,” tuturnya, dan kemudian menambahkan, “banyak orang dari [kepulauan] Indonesia yang juga tewas dalam peperangan itu.”

Pada waktu dia masih berusia 19 tahun, Frederick dikirim ke Timor Barat dan ditugaskan melawan tentara Jepang di Timor Barat pada tahun 1942. Ia mengenang perang melawan Jepang itu sebagai pertempuran yang brutal.

“Kami mendarat di Timor Barat dengan 1000 orang personil dan hanya 23 orang yang berhasil selamat. Kami bertempur tanpa henti melawan tentara Jepang selama 4 hari berturut-turut tanpa makanan dan amunisi,“ kenangnya.

“Waktu itu sangat berat dan sangat mengagetkan, karena saya baru berusia 19 tahun ketika itu, dan kami belum pernah juga meninggalkan tanah kelahiran kami. Tapi kami dipaksa langsung terjun ke medan perang, menghadapi tentara Jepang yang brutal,” tuturnya.

Artikel Terkait : [ Operasi Sehat Selalu ]

Setelah kalah melawan Jepang di Timor Barat, Frederik menjadi tahanan perang tentara Jepang selama 3,5 tahun. Ia ditempatkan di sejumlah kamp tahanan dan menjadi romusha, tenaga kerja paksa Jepang.

“Saya pernah tinggal di kamp tahanan di Jawa, Birma, Thailand dan Malaysia. Selama menjadi tahanan perang, saya kerja paksa membangun jalan kereta api di Birma Thailand dan Jawa.”

Memberi pengetahuan sejarah

Sementara itu, Ben, salah satu warga Australia yang kakeknya gugur dalam perang di Ambon, mengaku sangat terharu dengan peringatan Hari ANZAC di Jakarta tahun ini karena dihadiri lebih banyak orang. Ben kini bekerja di Jakarta, dan sudah beberapa kali menghadiri upacara ANZAC tersebut.

“Ini upacara ANZAC day ke-3 yang saya ikuti. [Sebelumnya] tidak pernah seramai ini sebelumnya. Ada lebih banyak perwakilan diplomatic yang hadir itu bagus sekali, sangat mengharukan bagaimana mereka sangat menghargai jasa dan pengorbanan pahlawan kita. “ ucapnya.

Ben hadir bersama isteri dan dua anaknya yang masih kecil. Ia juga ingin mengingatkan kedua anaknya atas jasa kakek buyutnya yang juga kut berperang melawan Jepang dalam PD II di Ambon.

Dalam upacara tersebut, suasana persahabatan juga terasa. Dan Thomas Frederick Smith mengatakan kepada Radio Australia mengenai kenangannya atas orang-orang dari Jawa yang bersama-sama dirinya menjadi tahanan perang Jepang.

“Dulu, banyak orang Jawa dalam ketentaraan Belanda, dan mereka pernah bilang ke saya, ‘kalau perang [dengan Jepang] ini sudah selesai, kita akan ada perang lagi -melawan Belanda’,” kenang Thomas.

Dan, sambil tertawa, Thomas menyelesaikan ceritanya: “Dan mereka menang pada akhirnya.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *